Kisah Anak Yatim dan Hadist Yang Menyertainya

Kisah Anak Yatim dan Hadist Yang Menyertainya

Banyak kisah anak yatim dengan segala suka dukanya yang dapat kita baca dan kita renungi sebagai pembelajaran bagi kita yang telah diberi kelebihan, kemampuan, serta kelengkapan dalam keluarga. Dengan kata lain, kita harus menjadi rahmat bagi mereka yang membutuhkan. Sebab anak yatim adalah satu daripada komponen kehidupan yang harus kita rahmati.

Akibat kematian ayah atau ibu, seorang anak akan merasakan suatu kekosongan dalam hidupnya. Kosong dari curahan kasih sayang dan segala aspek yang memenuhi keperluan hidup seperti makan, minum, pakaian, dan lain-lain. Ini menyebabkan seseorang anak yatim itu selalu dihantui oleh perasaan sedih dan hampa. Realiti yang ada di tengah masyarakat sekarang menunjukkan bahwa mayoritas anak yatim harus mengarungi sebuah kehidupan yang keras dan sulit.

Beberapa hadist yang menganjurkan agar kita senantiasa meneladani kisah anak yatim yaitu hadist dari Abu Ummah diceritakan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim kerana Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)

Selain itu dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Sebaik-baik rumah di antara orang Islam adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan sebaik-baiknya dan seburuk-buruk rumah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim, namun diperlakukan dengan buruk.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

Kisah Anak Yatim di Tengah Kerasnya Dunia

Ini adalah salah satu kisah anak yatim dari berjuta kisah kehidupan anak-anak yatim yang ada didunia ini. Saya pernah membaca dari sebuah Koran yang menceritakan bahwa ada seorang perempuan kecil disebuah desa yang tidak begitu besar, disana ia hidup hanya dengan ibunya. Sering ia mendapat cemoohan dari tetangga sekitarnya karena ia memiliki tubuh yang kurang sempurna. Selain dia adalah gadis yatim, ia juga cacat. Ia tidak bisa menggunakan kedua tangannya untuk melakukan berbagai aktivitas dengan baik, iapun juga tidak bisa merasakan bangku sekolah sebagaimana anak-anak lainnya. Sekali waktu ia pernah bersekolah, namun bukan ilmu pelajaran yang ia dapatkan tapi justru hanya rasa malu dan hinaan yang ia terima dari teman-temannya.

Ia selalu bertanya pada ibunya kenapa ia harus hidup seperti itu. Meski ada beberapa tetangga yang memahami dan senantiasa membantu kehidupan mereka tapi juga tidak sedikit orang yang mempermalukan keadaan mereka. Ayahnya yang telah meninggal saat gadis itu masih bayi belum sempat memberikan kehidupan dan bekal untuk kehidupan anak istri kedepannya, sehingga tanpa seorang kepala keluarga ibu si yatim ini selain harus berjuang keras untuk mencari nafkah ia juga harus berjuang menahan rasa malu akan keadaan anaknya. Hingga sempat terucap dalam do’anya, ia memohon kepada Allah agar jikalau diantara kami harus ada yang mati maka ibu itu memohon agar anaknya diambil terlebih dahulu. Bukan karena ibu itu tidak menyayangi anaknya, namun karena ia tidak ingin meninggalkan anaknya hidup sebatangkara didunia dan menanggung penderitaan. Dari kisah anak yatim tersebut bisa menjadi salah satu pembelajaran yang harus kita ambil hikmahnya, dimana kita yang telah diberi kehidupan yang lebih baik oleh Allah sudah sepantasnya membantu dan menyayangi mereka.

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose

SEO Powered By SEOPressor