Santunan Anak Yatim dan Nilai-nilai Normatif dalam Islam

Santunan Anak Yatim dan Nilai-nilai Normatif dalam Islam

Santunan anak yatim sesungguhnya merupakan suatu bentuk aktivitas ibadah yang mengandung nilai keharmonisan dan keseimbangan nan mulia. Dengan memberikan santunan terhadap anak yatim dan kaum dhuafa, sesungguhnya kita telah turut serta memakmurkan bumi Allah dengan menjaga keseimbangan diri kita baik secara individu maupun sosial. Santunan kepada anak yatim merupakan suatu bentuk tindakan konkret yang mencerminkan aplikasi ibadah kita kepada Allah dalam dimensi yang lebih luas dan universal. Manusia adalah makhluk Allah yang terciptakan untuk menjadi khalifah (wakil Allah) di bumiNya dan berkewajiban untuk memakmurkan bumi Allah dengan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Santunan anak yatim merupakan suatu bentuk aplikasi ibadah yang nyata dan seharusnya telah menjadi kesadaran universal bagi orang-orang yang diberikan kelebihan harta oleh Allah SWT.

Sudah menjadi suatu kebiasaan yang baik yang dilakukan sebagian besar ummat Islam di Indonesia, bahwa pada setiap tanggal 10 Assyura’ pada bulan Muharram, merupakan hari yang baik untuk memberikan santunan kepada anak yatim. Santunan tersebut berbagai macam bentuknya, ada yang memberikan santunan berupa uang dengan besaran antara 50 sampai 200 ribu rupiah, ditambah oleh-oleh berupa berbagai macam makanan dan jajanan. Ada pula yang menyantuninya dengan mengajak anak-anak yatim makan bersama dan diberikan hiburan, dan banyak lagi bentuk dan cara yang diberikan kepada anak-anak yatim ini. Apapun itu, seseungguhnya santunan anak yatim adalah suatu wujud kepedulian kita terhadap sesama makhluk Allah yang seharusnya terlaksanakan dengan penuh keikhlasan dan sukarela.

Santunan Anak Yatim Kini Sarat dengan Kepentingan Tertantu?

Model santunan anak yatim seperti ini sesungguhnya adalah suatu bentuk perbuatan baik yang dilakukan oleh masyarakat khususnya kaum muslimin dan muslimat di Indonesia. Hanya masalahnya sekarang adalah, apakah bentuk dan cara santunan seperti itu akan benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak yatim tersebut khususnya, juga kepada mereka yang menyantuninya. Bahkan kadang-kadang dalam sebuah acara pemberian santunan anak yatim ini, malah menjadi suatu ajang perbuatan ria, dimana anak anak yatim ini, dijadikan objek untuk kepentingan seseorang atau kepentingan suatu organisasi tertentu. Tak jarang dalam suatu acara seperti ini, seorang tokoh tampil dihadapan orang banyak bahkan dengan mengundang wartawan televisi, untuk menyiarkan berita tentang santunan anak yatim tersebut. Hal ini menjadi sangat miris ketika kita tahu beberapa orang memanfaatkan anak yatim dan kaum dhuafa demi kepentingan duniawi yang sesaat. Mungkin hal ini terdengar agak sinis, namun seperti itulah kenyataannya, bahwa anak yatim dijadikan ajang kepentingan bagi orang orang atau organisasi-organisasi tertentu.

Lalu, bagaimanakah contoh santunan anak yatim yang ideal dan relevan dengan perkembangan jaman? Sebenarnya banyak cara menyantuni anak-anak yatim yang lebih bermanfaat dibandingankan dengan cara pemberian santunan seperti disebutkan diatas. Antara lain yaitu dengan memberikan santunan berupa pendidikan bagi si Yatim Piatu, atau menjadikan anak-anak yatim tersebut menjadi anak asuh, sehingga santunan tersebut lebih bermanfaat bagi si anak yatim itu.

Sebuah contoh yang sederhana, andai saja pada setiap acara atau momen tertentu, sebuah organisasi atau seseorang bisa memberikan santunan anak yatim sebesar 10 juta, dan uang tersebut hanya habis selama satu hari, maka alangkah baiknya jika uang sebesar 10 juta tersebut dimanfaatkan untuk membiayai pendidikan 2 sampai 3 orang anak yatim sampai kurun waktu tertentu. Bukankah hal ini lebih bermanfaat bagi mereka maupun diri kita sendiri? Dengan memfasilitasi orang lain untuk memperoleh pendidikan yang layak, sesungguhnya kita telah memfasilitasi diri kita sendiri untuk mendapatkan kebaikan dan kemanfaatan hidup di dunia maupun di akhirat kelak dengan atas kehendak Allah. Wallahu a’lam bisshawwab.

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose

SEO Powered By SEOPressor